ASIANTODAYS – JAKARTA – Para peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengeluarkan peringatan serius mengenai potensi munculnya fenomena “Godzilla El Niño” yang diprediksi mulai terbentuk pada April 2026 dan mencapai puncaknya menjelang Agustus hingga Oktober 2026. Istilah “Godzilla” disematkan untuk menggambarkan variasi El Niño dengan intensitas luar biasa kuat yang mampu mengacaukan pola cuaca global.
Mengapa Disebut “Godzilla”?
Secara ilmiah, El Niño adalah pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Namun, ketika kenaikan suhu ini terjadi secara masif dan ekstrem—seperti yang pernah terjadi pada 2015-2016—intensitasnya dikategorikan sebagai “super” atau “Godzilla”.
Fenomena tahun 2026 ini diprediksi akan menjadi jauh lebih berbahaya bagi Indonesia karena terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) Positif.
Kombinasi antara El Niño kuat dan IOD Positif menciptakan efek “penyedotan” uap air dari wilayah Indonesia:
• Efek Pasifik: Suhu panas di Pasifik Timur menarik awan-awan hujan menjauh dari Indonesia menuju tengah samudra.
• Efek Samudra Hindia: IOD Positif menyebabkan suhu laut di sekitar Sumatra dan Jawa mendingin, sehingga proses penguapan untuk membentuk hujan terhambat drastis.
Akibatnya, wilayah Indonesia—terutama bagian selatan seperti Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara—berpotensi mengalami musim kemarau yang jauh lebih kering dan panjang dari biasanya.
Berdasarkan pemodelan BRIN, dampak fenomena ini tidak akan merata di seluruh nusantara:
1.Jawa, Bali, NTB, NTT berpotensi dampak utama Kekeringan ekstrem, krisis air bersih, dan kegagalan panen padi.
2.Sumatra & Kalimantan Peningkatan risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta polusi kabut asap.
3.Sulawesi & Maluku Berpotensi tetap mengalami curah hujan tinggi yang memicu risiko banjir.
Meski terdengar mengkhawatirkan, BRIN menekankan bahwa peringatan dini ini bertujuan agar pemerintah dan masyarakat dapat melakukan langkah antisipasi:
1. Manajemen Air: Penghematan air skala rumah tangga dan pengisian waduk/embung sebelum kemarau puncak.
2. Ketahanan Pangan: Penyesuaian pola tanam bagi petani untuk menghindari kerugian besar.
3. Sektor Garam: Menariknya, BRIN melihat kemarau panjang ini sebagai peluang emas untuk optimalisasi produksi garam nasional di wilayah pesisir selatan guna mencapai swasembada.

Be the first to comment on "Waspada “Godzilla El Niño” 2026 Ancaman Kemarau Ekstrem Mengintai Indonesia"